NEGARA MANA YANG PALING IDEAL BAGI DAERAH ANDA?

MEMILIH MITRA STRATEGIS PEMBANGUNAN KAWASAN INDONESIA TIMUR

BUILDING A GLOBAL COLLABORATIVE NETWORK

Pembangunan adalah Persaingan, mulai tingkat Nasional sampai dengan tingkat lokal (Kabupaten/ Kota/ Desa).
Di tingkat Nasional, suatu negara bersaing dengan negara lainnya dalam menggaet minat investasi maupun kerjasama strategis untuk masuk ke wilayahnya. Begitu juga halnya di tingkat lokal. Bisa dikatakan hampir tidak ada lagi faktor pembeda krusial dalam aspek ‘menjual potensi’, karena pada dasarnya ‘kepemilikan’ wilayah berada di tingkat lokal.

Pembangunan yang efektif, efisien dan cepat hanya bisa dilakukan dengan menggunakan Jaringan Kolaborasi yang secara umum meliputi Jaringan Rantai Pasok Fisik (Physical Supply Chain Network), yang mencakup barang dan perangkat produksi, sarana dan prasarana industri, bahan baku dan lain sebagainya, Jaringan Rantai Pasok Keuangan (Financial Supply Chain Network)  yang secara umum mencakup akses ke Permodalan dan Pendanaan, serta Jaringan Rantai Pasok Informasi dan Data (Information Supply Chain). 

Sebelum tahun 2007, tantangan utama pembangunan setiap Daerah terletak pada keterbatasan anggaran pembangunan, baik APBN maupun APBD, selain faktor lainnya seperti Kesiapan Sumber Daya Manusia, ketersediaan Energi Listrik dan lain sebagainya.
Sekarang seharusnya hal tersebut bukan lagi menjadi tantangan utama pembangunan setiap daerah karena hadirnya PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia dan PT Sarana Multi Infrastruktur yang dapat menfasilitasikan pendanaan pembangunan infrastruktur di daerah sampai dengan nilai Rp. 4.5 Triliun per proyek. Suatu nilai yang sangat fantastis bagi sebagian besar daerah di Indonesia.
Walaupun demikian, setiap pembangunan, apa itu pembangunan yang dikelola oleh Pemerintah maupun oleh sektor swasta, selalu mengandung unsur Risiko. Oleh karena itulah diperlukan kerjasama kemitraan dalam format Jaringan Kolaborasi, untuk menekan tingkat risiko dengan cara berbagi risiko (risks sharing) dengan mitra yang kuat, yang biasanya datang dari luar negeri.

Modal utama setiap daerah dalam pembangunan kemitraan strategis terletak pada dua (2) jenis Jaringan Rantai Pasok, yaitu Jaringan Rantai Pasok Sosial serta Ketersediaan Kekayaan Sumber Daya Alam, yang adalah bagian dari Jaringan Rantai Pasok Fisik.

KRITERIA DALAM MEMILIH KEMITRAAN GLOBAL

ASPEK TEKNOLOGI menjadi salah satu Kriteria Utama dalam memilih Mitra Global. Yang tercakup dalam aspek ini, antara lain:

 

  • KUALITAS PRODUK/ JASA: Paling mudah mengukurnya dengan standar sertifikasi internasional apa saja yang sudah dimiliki oleh teknologi atau pelayanan jasa tersebut;

 

  • SKALABILITAS PRODUKSI: kemampuan pihak Mitra Global dalam memproduski produk atau menyediakan pelayanan jasa yang dibawanya dalam skala yang fleksibel. Artinya perusahaan tersebut dapat mengantisipasi lonjakan kebutuhan tanpa mengganggu kinerja kerjasama usaha/ industri yang dibangun;

 

  • DAYA TAHAN PRODUK: ditentukan oleh standar material bahan baku yang digunakan, standar jangka waktu pemakaian yang ditentukan oleh pabrik dan/ atau standar industri, sampai dengan dukungan kekuatan jaringan purna jual;

 

  • JUMLAH PENGGUNA: dari data dan informasi ini kita bisa mengetahui seberapa besar & luas pasar yang sudah menggunakan produk/ jasa/ teknologi yang dibawa oleh Mitra Global tersebut. Bilamana perlu mintakan Referensi dari para pengguna yang ada saat ini;

 

  • ALIH TEKNOLOGI: alih teknologi ada bagian terpenting dalam menjaga keberlangsungan usaha/ industri yang dikerjasamakan. Aspek ini bukan saja menyangkut aspek Pelatihan tentang Pengetahuan atas teknologi yang digunakan, tetapi lebih dari itu termasuk peluang untuk memproduksi sebagian komponen teknologi tersebut di dalam negeri (Indonesia).

Produk buatan Cina dulu identik dengan kualitas yang buruk tetapi harganya murah. Sekarang kondisinya sudah berbeda. Mereka menguasai teknologi terdepan untuk memproduksi berbagai produk dengan kualitas yang sangat baik, yang dapat bersaing dengan produk buatan Eropa dan Amerika Serikat.

Pada umumnya, negara maju menyediakan berbagai jenis Fasilitas Pendanaan dan Permodalan yang dapat dipaketkan ke dalam berbagai bentuk Produk Pendanaan.

Idealnya, Mitra Global yang dipilih dapat menyediakan fasilitas Permodalan & Pendanaan yang mencakup:

 

  • KREDIT EKSPOR: rata-rata negara maju menyediakan fasilitas kredit ekspor bagi industri dalam negerinya untuk dijual ke mitra usahanya di luar negeri.  Keuntungan Kredit Ekspor adalah Suku Bunga Kreditnya Rendah dan Tenor / Jangka Waktu Pinjamannya cukup panjang serta prosentase nilai kreditnya bisa mencapai sampai dengan 85-90% dari total nilai proyek kerjasama yang dibangun;

 

  • KREDIT PERBANKAN: Mitra Global yang kuat biasanya memiliki akses ke jaringan Kredit Perbankan di negaranya, sehingga memungkinkannya untuk memfasilitasikan kerjasama yang dibangun dengan Pendanaan Kredit Lunak yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan proyek kerjasama;

 

  • PENDANAAN PIHAK KETIGA: yang dimaksud dengan Pendanaan Pihak Ketiga adalah Pendanaan/ Permodalan yang dimiliki dan kelola oleh organisasi di luar Mitra Global, tetapi berasal dari negara yang sama. Pendanaan jenis ini  dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan permodalan industri pendukung. Contohnya: Kredit Usaha Rakyat yang bukan merupakan bagian dari Kerjasama Usaha/ Industri yang dibangun, tetapi keberadaannya dapat mendukung Kerjasama Usaha/ Industri tersebut.

Mitra Global yang dipilih untuk bekerjasama harus mampu menyediakan Pasar bagi Produk/ Jasa yang dihasilkan dari Kerjasama Usaha/ Industri. Termasuk Pasar Nasional, Pasar di Negara Asal maupun Pasar Global.

Selain penyediaan pasar, mereka juga idealnya dapat menyediakan atau memfasilitasikan terbangunnya Jaringan Logistik dan Distribusi bagi Produk/ Jasa untuk bisa menembus ke pasar yang dituju.

Yang tidak kalah pentingnya adalah penyediaan sarana dan prasaran pendukung Layanan Purna Jual. 
Bila industri yang dibangun adalah Industri Manufaktur misalnya, maka diperlukan pembangunan Fasilitas Perbengkelan untuk melakukan jasa reparasi atas produk yang diproduksi.

Aspek Riset & Pendidikan seharusnya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam setiap Kerjasama Kemitraan Global yang dibangun.

Setiap daerah sangat membutuhkan kehadiran Lembaga Riset bertaraf internasional, yang dapat mendukung berbagai aspek pembangunan di daerah tersebut.

Lebih dari itu, Kerjasama Pendidikan dengan berbagai Perguruan Tinggi maupun Sekolah Kejuruan terkemuka antara Daerah dan Negara Tujuan Kerjasama merupakan aspek yang sangat strategis dalam pembangunan Kapasitas, Kompetensi dan Kualitas Sumber Daya Manusia daerah tersebut. 

Kerjasama Pendidikan hanya bisa terjamin keberlanjutannya bilamana didukung oleh aspek Pendanaan Beasiswa. Oleh karena itu penting dalam proses pembangunan kerjasama Usaha/ Industri untuk dibahas juga kerjasama beasiswa bagi mahasiswa dari daerah untuk melanjutkan studinya di negara mitra, atau bagi negara mitra untuk membawa fasilitas dan infrastruktur pendidikannya ke daerah.

 

SIAPA NEGARA YANG IDEAL UNTUK DIJADIKAN MITRA STRATEGIS PEMBANGUNAN DAERAH?

Setiap negara memiliki Keunggulan Kompetitif-nya masing-masing di berbagai sektor industri. Mereka juga memiliki berbagai Kebijakan yang mendukung aspek Penanaman Modal di luar negeri dan Perdagangan Luar Negeri. Keputusan dalam menentukan serta memilih Mitra Global ditentukan oleh Kebutuhan Strategis masing-masing daerah, di luar keempat kriteria tersebut di atas.

Untuk Wilayah Indonesia Timur misalnya, kita membutuhkan Mitra Strategis Global yang memiliki pengalaman Industri di Darat maupun Industri di Laut atau Lepas Pantai. Kita membutuhkan Mitra yang memahami Dunia Maritim dan memiliki pengalaman serta keahlian dalam berbagai industri yang terkait dengan sektor Maritim.

REPUBLIK RAKYAT CINA (RRC)

RRC (Cina) memiliki dan menawarkan banyak sekali peluang kerjasama di hampir semua sektor pembangunan. Mereka juga memiliki Program Jaringan Kolaborasi Global seperti OBOR (One Belt One Road) yang merupakan program yang sangat besar dengan melibatkan berbagai negara di Benua Asia, Eropa dan Afrika. 

Program yang ditawarkan oleh Cina juga mencakup aspek Teknologi, Pendanaan & Permodalan, Pemasaran sampai dengan Kerjasama Riset dan Pendidikan. Sampai dengan hari ini belum ada negara manapun yang sanggup menawarkan paket kerjasama lengkap seperti yang ditawarkan oleh Cina. Dengan demikian Cina menjadi negara pilihan utama untuk dijadikan Mitra Strategis Pembangunan Daerah.

NORWEGIA & NEGARA SKANDINAVIA LAINNYA

Norwegia termasuk salah satu negara di benua Eropa yang memiliki tingkat ketertarikan yang tinggi untuk bekerjasama dengan Indonesia, khususnya di bidang Perikanan dan Energi. Fasilitas Permodalan & Pendanaan yang ditawarkan juga sangat baik. Pemerintah Norwegia memberikan akses ke Kredit Ekspor bagi industrinya untuk mengembangkan sayap mereka ke luar negeri, termasuk ke Indonesia.
Rata-rata Industri Besar di Norwegia memiliki hubungan kerjasama dengan perguruan tinggi yang terkait dengan bidang industrinya. Standar Pendidikan di Norwegia juga sangat baik, khususnya di bidang Maritim dan Energi. Sehingga Norwegia menjadi salah satu pilihan utama bagi kerjasama kemitraan pembangunan daerah, khususnya Kawasan Indonesia Timur yang memiliki kekayaan maritim yang sebagian besar belum tereksplorasi dan tereksploitasi.

Baru-baru ini beberapa perusahaan yang bergerak di bidang Teknologi Perikanan Budidaya Lepas Pantai asal Norwegia, bersama dengan perusahaan yang bergerak di bidang Pembangkit Listrik Tenaga Arus & Ombak mencoba untuk membawa investasi masuk ke wilayah Maluku. Sayangnya penawaran mereka tidak mendapatkan sambutan positif dari Pemerintah Daerah Maluku, baik di tingkat Provinsi maupun di tingkat Kabupaten. Padahal pola kerjasama yang mereka tawarkan dapat membuka lapangan kerja dan usaha bagi ratusan nelayan dan masyarakat Maluku, sekaligus menjadikan industri yang dibangun menjadi milik Maluku. Indonesia Timur, khususnya Maluku harus banyak belajar tentang etika dalam membangun kerjasama industri sehingga dapat membuka ruang sebesar-besarnya bagi pembangunan Ekosistem Industri Berbasis Masyarakat di Indonesia Timur.

AUSTRALIA

Australia merupakan salah satu negara industri yang paling maju di belahan selatan dunia. Penguasaan mereka atas berbagai teknologi, khususnya yang berkaitan dengan dunia pertambangan dan manufaktur menjadikan Australia salah satu potensi mitra kerjasama strategis bagi daerah.
Sayangnya, produk asal Australia tidak kompetitif bila dibandingkan dengan produk asal Cina bahkan dengan sebagian produk asal Norwegia.
Industri di Australia juga tidak mampu membuka akses ke Permodalan Perbankan maupun Kredit Ekspor.

Industri di Australia juga tidak banyak yang mau atau mampu untuk diberikan tanggungjawab pembukaan akses ke pasar. Dengan demikian tanggungjawab pemasaran atas produk yang dihasilkan menjadi tanggungjawab daerah. Sementara sebagian besar daerah di Indonesia belum memiliki kemampuan dalam hal pemasaran dan penjualan ke pasar regional maupun global.

Di sisi lain, Australia selama ini kurang memandang Indonesia sebagai mitra strategisnya. Mereka lebih fokus ke negara Asia lainnya dan pasar Eropa, padahal Indonesia adalah negara tetangga terdekatnya. Mungkin karena budaya industri Australia yang masih sangat European-minded dan sekarang China-minded, sehingga Indonesia tidak dianggap cukup strategis bagi pembangunan ekonominya. Selain itu, pasar tujuan Australia selama ini ditujukan ke negara-negara dengan prosentase masyarakat Ekonomi Menengah yang tinggi yang memiliki Daya Beli yang tinggi juga. Indonesia belum termasuk dalam kategori tersebut, apalagi Wilayah Indonesia Timur. Industri Ekstraksi seperti Industri Pertambangan tidak termasuk dalam penentuan kriteria karena industri tersebut berpotensi merusak alam dan lingkungan serta tidak memiliki potensi strategis dalam pembangunan dan pengembangan kesejahteraan rakyat.

Salah satu Industri yang cukup ideal untuk dikerjasamakan dengan Australia adalah Industri Pendidikan, karena Australia memiliki standar pendidikan yang tinggi, bahkan dalam beberapa aspek lebih baik dari standar pendidikan di Amerika Serikat. Tantangan utamanya terletak pada Daya Beli Masyarakat, apalagi kalau Kerjasama Industri Pendidikan tersebut mau dibangun di kawasan Indonesia Timur.

Kurs Nilai Tukar Dollar Australia terhadap Rupiah yang tinggi juga menjadi salah satu kendala pembangunan kerjasama, apalagi ketika format kerjasama adalah dimana pihak Indonesia sebagai pembeli dalam mata uang dollar, sementara output yang dihasilkan dari usaha/ industri yang dibangun hanya dapat dipasarkan dengan nilai Rupiah.

 

Berminat untuk membahas topik di atas lebih lanjut?
Silahkan hubungi kami di info@muskitta.com 

Silahkan share di sini

Share di sini: