Gambaran umum dalam ilustrasi menjawab tantangan PT POS & PT TELKOM

COLLABORATIVE TRANSFORMATION

Business Transformation seringkali dianggap sebagai suatu insiatif strategis yang mahal, berisiko tinggi serta menggunakan sumber daya perusahaan secara masif dengan durasi implementasi rata-rata di atas 6-9 bulan. Anggapan ini bukan tidak beralasan, karena memang kenyataannya sebagian besar perusahaan yang melakukan Business Transformation adalah perusahaan papan atas, dan mereka rata-rata melakukannya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari implementasi program teknologi informasi berskala Enterprise seperti aplikasi Enterprise Resource Planning, Billing Management System, Customer Relationship Management dan lain sejenisnya.

Saat ini, Business Transformation tidak lagi harus menjadi inisiatif strategis yang hanya dapat dilakukan oleh korporasi besar dengan melibatkan Sumber Daya yang besar pula. Di era Collaborative Network (Jaringan Kolaborasi) yang mengandalkan teknologi digital, kita bisa menjalankan inisiatif Business Transformation dengan lebih cepat, lebih murah dan melibatkan Sumber Daya yang jauh lebih sedikit. Semuanya tergantung dari Strategi Bisnis dan Business Model yang diterapkan. Fokus utamanya adalah pada peningkatan efisiensi kinerja sambil membangun peluang usaha baru secara kolaboratif yang dapat menciptakan arus pendapatan baru yang terukur, signifikan serta kompetitif.

CASE #1: PT POS INDONESIA

Sejak hadirnya berbagai Digital Marketplace yang didukung dengan permodalan ventura (Venture Capital)  bisnis logistik semakin menjamur.

Kehadiran beberapa perusahaan logistik baru tersebut diperkuat dengan kekuatan permodalan asing yang besar, sehingga menjadikan mereka sangat kompetitif, bahkan lebih efisien dari PT Pos Indonesia.
Strategi yang digunakan oleh perusahaan permodalan ventura asing tersebut adalah berinvestasi di sisi demand (Digital Marketplace) maupun di sisi supply (Logistics Providers) dengan menggunakan perusahaan yang berbeda, sehingga bisnis logistik yang mereka bangun langsung memiliki captive markets.

Sementara itu, PT Pos Indonesia masih berjalan dengan strategi dan business model yang konvensional serta keterbatasan capital. Dengan demikian menjadi sangat sulit bagi PT Pos untuk bisa bersaing, apalagi mempertahankan teritori bisnisnya.

CASE #2: PT TELEKOMUNIKASI INDONESIA

Hampir serupa kasusnya dengan PT Pos Indonesia, PT Telekomunikasi Indonesia saat ini sedang berupaya keras untuk bisa mencapai titik Zero Growth (Pertumbuhan Nol) selama kurun waktu satu tahun belakangan ini. Sayangnya, mereka belum berhasil mencapai target tersebut, terlepas dari berbagai upaya yang telah dilakukan secara kolektif dengan berbagai unit perusahaan yang berada di bawah Grup PT Telkom.

Bisnis Telekomunikasi selama ini dikenal sebagai bisnis yang sangat Capital Intensive tetapi juga sarat dengan tingkat persaingan yang tinggi, khususnya di spektrum Telekomunikasi Seluler maupun Internet Broadband.

Sama dengan PT Pos Indonesia, PT Telkom cenderung memaksimalkan kekuatan internalnya untuk mempertahankan kinerja usahanya dengan strategi dan business model yang saat ini bisa dikategorikan konvensional.

Apa Kesamaan Dari Kedua Perusahaan tersebut di atas?

Secara umum, langkah standar yang diambil oleh pihak manajemen kedua perusahaan tersebut biasanya berkisar antara:

COST-CUTTING STRATEGIES

Seperti menekan biaya operasional dan menahan/ menunda Capital Investment besar untuk memperbaiki kinerja keuangan dalam jangka waktu pendek dan menengah.

MAXIMIZING RETURN ON ASSETS

memberdayakan lebih lanjut atau memaksimalkan sumber daya yang ada dengan harapan dapat menghasilkan tambahan pendapatan atau arus pendapatan baru (New Revenue Streams)

EXTENDING VALUE PROPOSITIONS

Memperluas Value Proposition mereka melalui Value-Added Services baru atau bahkan membangun unit usaha baru yang diharapkan dapat membantu meningkatkan kinerja bisnis mereka.

Apa Yang Seharusnya Mereka Bisa Lakukan?

EXPLORE OUT OF THE BOX

Sangat jarang kita temukan perusahaan-perusahaan ini berpikir Out Of The Box, mencari aliran pendapatan baru melalui penciptaan “Blue Ocean” baru atau inisiatif strategis baru melalui pendekatan Kolaboratif. Kebanyakan perusahaan berpikir bahwa bilamana mereka berkolaborasi dengan Strategic Business Units (SBUs) yang ada di dalam Grup Usaha mereka, maka sebenarnya mereka sedang menjaga perputaran uang untuk tetap berada di dalam Grup. Hal ini ada benarnya, tetapi seringkali yang kita jumpai adalah sebagian SBUs tersebut tidak kompetitif dan tidak seproduktif para pesaing mereka di pasar bebas. Sehingga niat baik untuk menjaga perputaran uang di dalam Grup dapat berpotensi menurunkan produktivitas dan kinerja bisnis secara akumulatif.

SHIFTING PARADIGM

Misi utama dan terutama dari setiap bisnis adalah menghasilkan laba sebesar-besarnya, bukan menekan biaya atau bahkan menjaga perputaran uang untuk tetap berada di dalam Grup Perusahaan melalui Sinergi antar SBUs. Paradigmanya yang harus berubah atau digeser dari Kolaborasi Internal menjadi Kolaborasi Terbuka (Internal dan Eksternal).

COMMUNITY-DRIVEN BUSINESSES

Salah satu business model yang lagi trend saat ini adalah Community-Driven Business Model atau Pola Bisnis Berbasis Komunitas. Perusahaan seperti Telkomsel bisa klaim sudah memiliki komunitas dalam jumlah besar dan banyak. Itu faktanya. Tetapi sayangnya, sebagian besar komunitas yang mereka miliki adalah komunitas yang didorong oleh daya beli (spending power driven).  Begitu juga kemungkinannya dengan PT Pos Indonesia beserta berbagai SBU yang berada di bawahnya. Baik PT Pos maupun PT Telkom, masing-masing memiliki kekuatan yang dapat ditransformasikan dan dikolaborasikan bersama sehingga dapat menciptakan berbagai inisiatif bisnis baru yang dapat menghasilkan Revenue Streams baru yang signifikan dan berkelanjutan. Fokusnya adalah pada kolaborasi dengan berbagai Digitally-Enabled, Community-Driven Businesses yang dapat dibangun loyalitasnya secara berkelanjutan karena kerjasama yang dibangun didasari pada kekuatan dalam menciptakan sumber pendapatan baru atau Revenue-Driven Collaborative Network.

COLLABORATIVE TRANSFORMATION

COLLABORATIVE TRANSFORMATION bisa didefinisikan sebagai upaya kolaboratif dalam membangun peluang bisnis baru sambil melakukan Business Process Transformation ke dalam masing-masing bisnis/ korporasi yang terlibat di dalam upaya kolaboratif tersebut. Dengan demikian, upaya transformasi dijalankan dalam rangka menyesuaikan diri terhadap peluang yang ada sekaligus terhadap Mekanisme Integrasi antar pihak yang tergabung ke dalam Jaringan Kolaborasi tersebut. Merangkul Digitally-Enabled, Community-Driven Business Model seperti yang dijalankan oleh INDUSTRY 360° hanyalah satu dari begitu banyak opsi lainnya yang bisa dilakukan oleh perusahaan seperti PT Pos Indonesia dan PT Telekomunikasi Indonesia. Kunci keberhasilannya terletak pada:
  • Kemauan dan keberanian untuk membangun Out Of The Box Solutions, di luar core businesses yang ada, tetapi pada akhirnya dapat terhubungkan kepada core businesses bahkan bisa jadi menjadi salah satu primary revenue generators;. Dengan kata lain, contohnya, Revenue Stream yang nantinya dihasilkan oleh PT Telkom tidak datang dari core products/ services mereka seperti Voice, Data, VAS dan lain sejenisnya, tetapi datang dari Revenue Sharing hasil commodities transactions, fee-based transactions dan sejenisnya, yang tidak secara langsung berhubungan dengan core business PT Telkom tetapi dihasilkan karena menggunakan fasilitas infrastruktur yang dimiliki oleh PT Telkom hari ini;
  • Memilih Business Model yang dapat memposisikan bisnis yang dibangun menjadi Indispensable. Dalam hal ini, fokus pembangunan dan penentuan bisnis model bukan pada Value-Adding services to existing customers, melainkan pada products dan/ atau services yang dapat menciptakan ketergantungan serta pada saat yang bersamaan menciptakan unsur disruptive bagi pasar dan pelaku pasar yang ada;
  • Memberikan prioritas utama dan fokus khusus untuk menjalankan inisiatif Collaborative Transformation dalam kerangka Program Management;

Berminat untuk membahas topik di atas lebih lanjut?
Silahkan hubungi kami di info@muskitta.com 

Silahkan share di sini

Share di sini: