CATATAN SAYA TENTANG SEORANG EDDI SANTOSA

MENGHIDUPI INTEGRITAS

APA ITU INTEGRITAS?

MENGENAL SOSOK EDDI SANTOSA

Bagi orang yang mengenal sosok Eddi Santosa, pasti pandangannya tentang sosok tersebut tidak mungkin berbeda jauh dengan persepsi saya terhadap seorang Eddi Santosa: Cerdas, Lugas dan Penuh dengan Integritas.

Perawakannya besar, gerakannya cepat walaupun beliau kelihatan lumayan overweight. Setiap kali berdiskusi dengannya, bahasa tubuhnya menggambarkan betapa semangatnya beliau dalam membahas berbagai peluang dan terobosan untuk dapat memperbaiki kinerja PT Pos Indonesia dan mengembalikannya sebagai perusahaan kebanggaan bangsa ini. “The National Flag Carrier in The Supply Chain Spectrum” katanya dengan bangga.

Eddi Santosa sangat menguasai permasalahan yang dihadapi oleh bahtera yang dia tumpangi saat ini, PT Pos Indonesia. Dalam kapasitasnya sebagai Direktur Keuangan, Eddi bukan saja paham tentang aspek keuangan perusahaan, dia bisa dikatakan ahlinya dalam bidang keuangan, khususnya dalam hal penggalangan pendanaan sampai dengan Financial Engineering. Tidak sedikit perusahaan yang pernah dibidaninya mencapai tingkat keberhasilan maksimal seperti Perusahaan Permodalan Madani Nasional, PT MRT dan lainnya. 

GALAU

Belakangan ini Eddi galau. Bukan karena urusan jabatan, tetapi karena dia melihat ada banyak sekali keputusan dan langkah yang salah kaprah, yang diambil oleh sang Nahkoda PT Pos Indonesia. Eddi tidak menyampaikan hal tersebut secara gamblang, tetapi dalam dua kali berdiskusi dengan beliau, saya bisa menangkap kegalauan tersebut dengan sangat jelas. Latar belakang dan 20 tahun pengalaman sebagai konsultan manajemen membuat saya dan para konsultan seangkatan saya memiliki kepekaan yang kuat dalam membaca bahasa tubuh seseorang serta mengintepretasikan narasi pembicaraan. Saya dapat menangkap Hot Buttons seseorang dari diskusi/ pembicaraan yang terjadi dengan orang tersebut. Istilah “Hot Buttons” adalah istilah konsultan ‘jaman dulu’, yaitu hal-hal yang membuat seseorang (di tingkat direksi) tidak bisa tidur setiap malam, yang menjadi tantangan utama pekerjaannya/ usahanya.

Saya belum cukup lama mengenal seorang Eddi Santosa. Tetapi pada dua kali pertemuan dengan beliau dalam format diskusi progresif, saya memperoleh mitra seimbang dalam berdiskusi, bahkan dalam beberapa hal saya harus akui kelebihan beliau, khususnya yang berkaitan dengan aspek Strategi & Manajemen Operasional dan Manajemen Inovasi Keuangan.
Eddi lah yang mengingatkan saya bahwa jauh sebelum adanya FinTech, PT Pos Indonesia sudah menjalankan peran dan fungsi tersebut minus ketersediaan teknologi digitalnya. Sehingga seharusnya PT Pos lah yang paling mudah dan kompeten untuk masuk ke dalam sektor industri tersebut. Betul juga! Saya langsung teringat produk Wesel dan Giro-nya PT Pos.

Eddi paham akan pentingnya berkolaborasi bagi PT Pos Indonesia dan bagaimana dengan memanfaatkan Jaringan Kolaborasi PT Pos dapat lebih cepat bangkit, pulih bahkan menjadi kompetitif di Industrinya. Eddi dapat dengan fasih menjelaskan kepada saya dan kawan-kawan tentang bagaimana PT Pos bisa me-leverage Digital Marketplaces yang ada saat ini untuk meningkatkan kinerjanya, bagaimana PT Pos bisa menjadi motor pendorong pembangunan Kewirausahaan di berbagai daerah dengan mempermurah biaya logistik, yaitu komponen biaya yang seringkali membuat rata-rata usaha daerah, khususnya di luar Pulau Jawa tidak bisa bersaing ke luar pulau.

Kita bahas bersama peluang menjadikan Kelapa Kopra sebagai Komoditas Strategsi Nasional/ Komoditas GeoPolitik. Kita diskusikan secara dalam bagaimana PT Pos bisa mengambil peran strategis dalam membangun basis-basis komunitas produksi di berbagai wilayah Indonesia. Di atas segalanya, kita sepakat bahwa Aspek Keberpihakan pada yang lemah harus menjadi landasan utama dari setiap pemikiran dan gagasan yang kita bangun bersama.

Saya punya kebiasaan rutin bertemu dengan berbagai professional dan eksekutif korporasi untuk berdiskus dan membahas berbagai hal yang berkaitan dengan terobosan strategis, inovasi, business model sampai dengan program. Tujuannya adalah untuk saling sharing dan saling memperkaya ilmu pengetahuan. Kalau memang ada kerjasama lanjutan yang bisa dihasilkan dari diskusi tersebut itu hanya bersifat bonus aja dan bukan menjadi tujuan utama kita berdiskusi.

KABAR BURUK & PENGHARAPAN

Semalam, di sela-sela ibadah kelompok sel gereja, saya mendapatkan pesan singkat dari sahabat saya Prof.DR. Ir. Jan Sopaheluwakan, Msc. yang mengatakan bahwa kemungkinan besar Eddi akan diganti alias dicopot dari jabatannya. Saya cukup terpukul dengan berita tersebut. Bukan karena rasa iba saya pada Eddi, tetapi lebih pada rasa iba saya pada PT Pos Indonesia dan potensi kesuraman masa depannya.

Sampai kapan kita harus begini terus? Menghempaskan orang baik dan menggantinya dengan yang belum jelas dan belum teruji track record-nya, siapapun dia. Mungkin pernyataan kegalauan saya ini cenderung bias. Bisa jadi! Tapi bagi saya sosok seorang Eddi yang ada hari ini adalah sosok aset yang memiliki integritas tinggi, yang sudah sangat sulit ditemukan di negara ini.
Setiap kali saya menonton Presiden Joko Widodo di televisi, saya selalu teringat akan sosok Eddi Santosa. Ada kesamaan yang kuat antara kedua sosok tersebut, namanya INTEGRITAS. Tapi sayangnya, siapapun dia yang mengambil keputusan untuk menghempaskan seorang Eddi Santosa tidak paham betul arti integritas bagi Pak Jokowi, bagi saya dan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia yang selalu mendambakan kehadiran manusia-manusia berkarakter dan berintegritas.

Saya jadi teringat lagunya John Lennon: “Give Peace A Chance“… dalam hal ini saya ubah sedikit judulnya menjadi “Give Growth A Chance“.
Bagi saya, Eddi represents Change, Growth and Sustainability!

Saya mau menutup tulisan ini dengan doa bagi Eddi. Walaupun kita berbeda keyakinan, tapi saya sungguh percaya bahwa Tuhan saya pun berpihak pada orang baik, bijak dan berintegritas. Apalagi kalau itu menyangkut masa depan banyak manusia ciptaanNYA yang saat ini berada di dalam bahtera yang bernama PT Pos Indonesia.
Saya juga berdoa semoga Eddi Santosa tidak murka atas tulisan saya ini, karena hanya dengan menulis-lah saya bisa mengebaskan kegalauan saya dan melanjutkan hidup dalam pengharapan.

 

Silahkan share di sini

Share di sini: