Kenapa Menggabungkan BUMN Adalah Langkah Kurang (Tidak) Tepat

KOLABORASI vs PENGGABUNGAN

WELCOME TO THE ERA OF COLLABORATION!

Dalam pertemuan forum ekonomi bergengsi tingkat global, World Economic Forum, di bulan Januari 2015, salah satu topik utama yang digaungkan adalah Collaborative Innovation. Empat tahun kemudian, hari ini, dunia jargon Collaboration masih menjadi trending topic di berbagai sektor industri. Finnovista, lembaga yang bergerak dalam membangun kekuatan FinTech (Teknologi Finansial) dan InsureTech (Teknologi Asuransi) menyatakan bahwa 2019 adalah Era Kolaborasi.

Kembali lagi di tahun 2019 World Economic Forum menekankan pentingya aspek Kolaborasi, khususnya dalam membangun efisiensi Jaringan Rantai Pasok (Supply Chain Network) dengan mengandalkan Teknologi Blockchain untuk membangun Tingkat Kepercayaan antar pelaku industri.

Operator bandara, maskapai penerbangan, dan koordinator slot sekarang akan memainkan peran yang sama dalam menentukan pedoman global untuk alokasi slot bandara melalui Platform Kolaborasi yang mereka sepakati bersama. Lebih dari 200 bandara memerlukan koordinasi slot karena mereka memiliki kapasitas yang tidak mencukupi untuk memenuhi permintaan setiap saat sepanjang hari. Kolaborasi koordinasi berdasarkan standar global membantu memaksimalkan pemanfaatan kapasitas yang ada, menghindari penundaan dan meningkatkan pengalaman penumpang.

Dunia sedang mengalami pergeseran era, dari Era Kompetisi ke Era Kolaborasi.
Kolaborasi mendorong terbangun Konvergensi Ekonomi yang kemudian menciptakan berbagai jenis dan tingkatan efisiensi dalam suatu ekosistem bisnis/ industri. 

TAKING A DIFFERENT (WRONG) TURN

Seakan bertolak belakang dengan arus trend global yang sedang berjalan saat ini, Pemerintah Indonesia justru memutuskan untuk menggabung-gabungkan (konsolidasi – merger) Badan Usaha Milik Negara berdasarkan jenis industrinya dengan dalih membangun kekuatan ekonomi dan efisiensi.

Rencana Merger BUMN tersebut diharapkan dapat meningkatkan kinerja serta daya saing berbagai perusahaan gabungan tersebut di pasar nasional dan global. Mungkinkah?

COMPETITIVE ADVANTAGES & MARKET-RELEVANCE BUSINESS MODEL

RENCANA PENGGABUNGAN PT. PGN KE PT. PERTAMINA

Rencana Pemerintah untung melebur PT Perusahaan Gas Negara (PGN) ke dalam PT Pertamina bukanlah kebijakan yang tepat. 
Secara umum persepsi, publik tentang latarbelakang keputusan pilihan tersebut adalah atas dasar ukuran (besar-kecil) perusahaan, dimana Pertamina yang lebih besar menjadi Surviving Company dalam proses Merger-Acquisition, sementara PGN yang jauh lebih kecil harus menerima nasibnya, dilebur dan kehilangan Brand Name-nya yang sangat identik dengan Industri/ Bisnis Gas Alam.

Idealnya, langkah yang seharusnya diambil oleh Pemerintah, dalam hal ini Kementerian BUMN, adalah melepas unit usaha yang begerak di sektor Gas Alam dari Pertamina untuk kemudian digabungkan ke dalam bisnis PGN. Kenapa demikian?

UNIQUE BUSINESS MODEL

Business Model PGN berbeda dengan Business Model Pertamina.

Pasar yang dilayani oleh PGN lebih condong ke segmen retail dengan potensi pengembangan yang sangat besar.

Vertical Market PGN juga belum terbangun secara maksimal, masih banyak peluang yang belum tergarap dan berpotensi besar untuk bisa digarap oleh PGN.

Bilamana PGN bisa terus berfokus pada pelayanan market bases-nya sambil mengembangkan potensi pasar yang ada, Future Value PGN serta Potential Growth-nya akan jauh lebih baik bilamana PGN tetap berjalan sebagai bisnis independen yang tidak dileburkan ke dalam Pertamina.

Pertagas (unit usaha Pertamina di segmen bisnis yang serupa dengan PGN) tidak memiliki kapasitas dan pengalaman industri seperti yang dimiliki oleh PGN.

GAS ADALAH ENERGI MASA DEPAN

Gas Alam memang bukan bagian dari Energi Terbarukan, tetapi tingkat emisi yang dihasilkannya jauh lebih rendah dari energi fosil lainnya.

Hari ini Indonesia punya Blok Gas Alam Bintuni (Papua) yang dapat mendistribusikan Gas Alamnya ke seluruh wilayah Indonesia (bilamana diatur dengan baik dan benar). Begitu juga dengan keberadaan Blok Gas Alam Abadi di perairan lepas pantai Maluku (Blok Masela) yang dalam kurun 10 tahun mendatang sudah berproduksi.
Masih ada lagi potensi besar Gas Alam lainnya yang saat ini masih dalam tahapan eksplorasi.

Semua potensi ini membuka ruang yang sangat besar bagi PGN untuk mengembangkan usahanya ke berbagai daerah di Indonesia dengan pola KPBU (Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha), sehingga memberikan peluang bagi PGN untuk menciptakan Captive Market Bases yang dibangun bersama Badan Usaha Milik Daerah di setiap Provinsi/ Kabupaten/ Kota misalnya.

POSTUR PERTAMINA TERLALU BESAR

GAJAH SULIT UNTUK BERMANUVER DI DALAM RUANG SEMPIT/ KECIL
Postur bisnis & organisasi Pertamina yang sangat besar bisa menguntungkan dalam banyak hal, tetapi juga bisa menjadi penghambat bagi pertumbuhan kinerja bisnis Gas.
Dulu Size Matters, sekarang Kecepatan, Ketepatan dan Kemampuan dalam membangun Jaringan Kolaborasi lah yang menentukan keberhasilan bisnis dalam memenangkan persaingan.

Postur PGN saat ini jauh lebih menguntungkan dalam aspek pembangunan Daya Saing karena PGN merupakan perusahaan yang berdiri sendiri, bukan salah satu unit usaha dari Korporasi Besar seperti Pertamina di mana Decision Making Process cenderung panjang dan berpotensi melemahkan Daya Saing unit usaha Gas Alam (bilamana PGN dilebur ke dalam Pertamina).

Dengan Postur yang jauh lebih ramping dari Pertamina, PGN dapat bergerak lebih cepat dalam mengembangkan sayapnya, khususnya dalam aspek Time-to-Operation, Time-to-Production dan Time-to-Market.

Sekali lagi, ini Era-nya Kolaborasi, bukan Penggabungan (Merger). Dalam beberapa kasus, keputusan untuk melebur/ menyatukan BUMN ke dalam satu Holding Company mungkin saja merupakan keputusan yang tepat, tetapi yang pasti kita masih harus membuktikannya melalui performance BUMN Holding tersebut di pasar yang mereka layani hari ini. Misalnya, dengan digabungkannya beberapa perusahaan semen nasional ke dalam satu perusahaan induk apakah telah berhasil menurunkan harga semen nasional, membuat produk semen menjadi accessable ke seluruh wilayah Indonesia dengan harga yang tidak berbeda jauh atau harga semen Indonesia bisa bersaing dengan semen impor asal Cina?

Begitu juga halnya dengan penggabungan berbagi perusahaan tambang nasional. Pertanyaan krusialnya adalah Dampak Sosial-Ekonomi-Politik apa yang berhasil dibangun sebagai konsekwensi dari penggabungan tersebut. Apakah kita sudah berhasil menjadikan perusahaan gabungan tersebut menjadi World-Class Corporation yang dapat menghasilkan beberapa Industry Best Practices di dalam Sektor Industri Pertambangan? 
Atau terobosan apa yang sudah berhasil dibangun oleh perusahaan gabungan tersebut dari sisi Geopolitik dan National Competitive Advantages misalnya? Apa Emerging Strategic Values, baik Tangible maupun Intangible yang telah dihasilkan oleh para Perusahaan Holding Baru tersebut?

In Summary, PGN berpotensi untuk menjadi Energy Powerhouse Indonesia, bahkan ASIA sekalipun, semua tergantung dari pihak pemiliknya dalam menentukan serta memilih Strategi yang tepat dalam mengembangkan Industri Gas Nasional.
Kalau salah satu aspek pertimbangan dalam memutuskan PGN untuk bergabung/ melebur ke Pertamina adalah aspek Capital, khususnya Investment Capital, saat ini Indonesia punya PT Pembangunan Infrastruktur Indonesia (PII) dan PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) yang dapat memfasilitasikan segala kebutuhan pendanaan pengembangan usaha PGN saat ini dan di masa datang, termasuk potensi kerjasama dengan berbagai BUMD di seluruh Indonesia dalam pola kerjasama KPBU (Kerjasama Pemerintah & Badan Usaha) misalnya. Potensi usaha ini dapat dengan cepat memposisikan PGN sebagai “BUMN Papan Atas” dengan tingkat pertumbuhan yang fenomenal. Kenapa demikian? Karena bila semua Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (yang sebagian besar berada di wilayah Indonesia Timur) dikonversi ke Gas Alam sebagai bahan bakarnya, maka mungkin saja ini menjadi peluang usaha terbesar yang PGN pernah lakukan sejak berdirinya perusahaan tersebut. Mungkin!

Berminat untuk membahas topik di atas lebih lanjut?
Silahkan hubungi kami di info@muskitta.com 

Silahkan share di sini

Share di sini: