STRATEGI MENINGKATKAN KINERJA EKONOMI JANGKA PENDEK-MENENGAH

MENINGKATKAN VOLUME & KETAHANAN EKSPOR

Prologue

Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam Rapat Kabinet Paripurna ‘menyentil’ Menteri BUMN dan Menteri ESDM karena turunnya nilai ekspor Indonesia yang berdampak pada Defisit Neraca Perdagangan senilai USD 2,4 miliar.
Selanjutnya, Presiden Jokowi meminta para menterinya meningkatkan nilai ekspor dengan memanfaatkan perang dagang yang terjadi antara Amerika dan Cina. Caranya, kata dia, dengan memberikan insentif bagi para pengusaha (Tempo.co, 8 Juli 2019).
Apakah ini strategi yang tepat?

First Thing First: Lakukan Pemetaan Data

Untuk memahami turunnya nilai ekspor Indonesia, kita harus terlebih dahulu mengetahui data-data ekspor yang ada. Komoditas apa yang selama ini menjadi andalan, seberapa besar peluang untuk memperbesar kapasitas produksinya maupun daya serap pasar luar negeri, siapa saja pesaing kita di pasar tujuan ekspor, faktor apa saja yang membuat kita kurang atau kalah bersaing, sebelum kita berbicara tentang pemberian insentif bagi para pengusaha.

Data Ekspor Indonesia periode Januari-April 2019 dalam Juta Dollar Amerika Serikat.
Sumber: Data Kementerian Perdagangan, 2019.
Klik pada Grafik untuk menampilkan angka

Menurut Data Badan Pusat Statistik (BPS) Nasional, Nilai ekspor Indonesia Januari 2019 mencapai US$13,87 miliar atau menurun 3,24 persen dibanding ekspor Desember 2018. Demikian juga dibanding Januari 2018 menurun 4,70 persen.
Ekspor nonmigas Januari 2019 mencapai US$12,63 miliar, naik tipis 0,38 persen dibanding Desember 2018. Sementara itu dibanding ekspor nonmigas Januari 2018, turun 4,50 persen.

Peningkatan terbesar ekspor nonmigas Januari 2019 terhadap Desember 2018 terjadi pada bijih, kerak, dan abu logam sebesar US$80,3 juta (37,08 persen), sedangkan penurunan terbesar terjadi pada mesin-mesin/ pesawat mekanik sebesar US$127,1 juta (22,42 persen).

Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari 2019 turun 4,47 persen dibanding bulan yang sama tahun 2018, demikian juga ekspor hasil tambang dan lainnya turun 6,25 persen, sementara ekspor hasil pertanian naik 9,99 persen.

Ekspor nonmigas Januari 2019 terbesar adalah ke Tiongkok yaitu US$1,71 miliar, disusul Amerika Serikat US$1,51 miliar dan Jepang US$1,20 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 34,96 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa (28 negara) sebesar US$1,38 miliar.

Menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada Januari 2019 berasal dari Jawa Barat dengan nilai US$2,58 miliar (18,62 persen), diikuti Kalimantan Timur US$1,46 miliar (10,55 persen) dan Jawa Timur US$1,43 miliar (10,30 persen)

DATA STATISTIK IMPOR CINA

Kalau kita melihat data BPS di atas, pasar tujuan ekspor terbesar Indonesia adalah Tiongkok (Cina), yaitu sebesar US$ 1,71 miliar. Secara sekilas, strategi untuk memperbesar pasar ekspor dengan mengambil kesempatan atas perang dagang Cina-Amerika merupakan langkah yang tepat. Indonesia sendiri pada tahun 2017 memiliki 2.2% pangsa pasar impor Produk Makanan ke Cina (Sumber Data: World Integrated Trade Solution).
Tetapi, kalau kita merujuk ke data statistik total impor Cina dalam kurun waktu Januari sampai dengan April 2019, kita bisa melihat nyata-nyata telah terjadi penurunan nilai impor di negeri tirai bambu tersebut.

Pada bulan Januari 2019, Cina mengalami penurunan impor sebesar 1.5%. Pada bulan Februari 2019 prosentase penurunan impor Cina sebesar 3.1%. Kemudian pada bulan Maret 2019 terjadi penurunan impor sebesar 4.8% dan bulan April 2019 sebesar 2.5%. (Sumber Data: Kementerian Perdagangan RRC).

Sepuluh (10) Besar produk/ komoditas yang diimpor oleh Cina sepanjang tahun 2018 terdiri dari:

  1. Electrical machinery, equipment: US$521.5 miliar (24.4% of total imports)
  2. Mineral fuels including oil: $347.8 miliar (16.3%)
  3. Machinery including computers: $202.3 miliar (9.5%)
  4. Ores, slag, ash: $135.9 miliar (6.4%)
  5. Optical, technical, medical apparatus: $102.5 miliar (4.8%)
  6. Vehicles: $81.5 miliar (3.8%)
  7. Plastics, plastic articles: $74.9 miliar (3.5%)
  8. Organic chemicals: $67.4 miliar (3.2%)
  9. Gems, precious metals: $62 miliar (2.9%)
  10. Copper: $47.6 miliar (2.2%)

Selain 10 besar produk/ komoditas di atas, Cina juga merupakan importir terbesar untuk komoditas Minyak Canola (38.3 Miliar Dollar AS) dan Batubara (11.5 miliar Dollar AS).

Sementara itu, Limabelas (15) Mitra Perdagangan Terbesar Cina adalah:

  1. United States: US$479.7 miliar (19.2% dari total nilai perdagangan Cina)
  2. Hong Kong: $303 miliar (12.1%)
  3. Japan: $147.2 miliar (5.9%)
  4. South Korea: $109 miliar (4.4%)
  5. Vietnam: $84 miliar (3.4%)
  6. Germany: $77.9 miliar (3.1%)
  7. India: $76.9 miliar (3.1%)
  8. Netherlands: $73.1 miliar (2.9%)
  9. United Kingdom: $57 miliar (2.3%)
  10. Singapore: $49.8 miliar (2%)
  11. Taiwan: $48.7 miliar (2%)
  12. Russia: $48 miliar (1.9%)
  13. Australia: $47.5 miliar (1.9%)
  14. Malaysia: $45.8 miliar (1.8%)
  15. Mexico: $44.1 miliar (1.8%)

Melihat perkembangan impor Cina dalam kurun waktu Januari-April 2019, kita bisa simpulkan bahwa Cina bukan merupakan target pasar terbaik untuk meningkatkan Nilai Ekspor Indonesia saat ini.

MEMBANGUN & MENGEMBANGKAN INDUSTRI DALAM WAKTU SINGKAT UNTUK MENINGKATKAN NILAI EKSPOR

Kalaupun pintu peluang ekspor Indonesia ke Cina masih terbuka, maka fokus terbaik kita seharusnya diarahkan pada pembangunan dan pengembangan Industri Pertanian/ Perkebunan Berbasis Masyarakat (sampai ke Industri Pengolahannya) seperti Perkebunan Bunga Matahari yang dapat menghasilkan Minyak Canola maupun Industri Rumput Laut yang dapat menghasilkan produk Hydrocolloid dengan tingkat permintaan global yang tinggi.

INDUSTRI PERKEBUNAN BUNGA MATAHARI/ MINYAK CANOLA

Perkebunan Bunga Matahari yang dapat menghasilkan Minyak Canola menjadi salah satu pilihan strategis dalam membangun Industri Berbasis Masyarakat yang dapat dalam waktu singkat membantu pemerintah dalam menekan Defisit Neraca Perdagangan, Karena:

  • Industri Berbasis Masyarakat jauh lebih Scalable (skalanya dapat disesuaikan tergantung kebutuhan) dibandingi dengan industri berbasis korporasi. Aspek Time-to-Production dan Time-to-Market Industri Berbasis Masyarakat, seperti Perkebunan Bunga Matahari (3-4 bulan), jauh lebih pendek bilamana dibandingkan dengan pembangunan dan pengembangan industri manufaktur pada umumnya, yang rata-rata membutuhkan waktu minimal 6-9 bulan untuk proses pembangunan pabrik, belum termasuk proses produksinya;
  • Perkebunan Bunga Matahari dapat bertahan sepanjang tahun dan di setiap musim – Amerika Serikat dan Kanada, dua negara produsen terbesar minyak Canola, hanya dapat berproduksi selama maksimal 2 musim dalam satu tahun;
  • Tingkat Pertumbuhan Per Tahun Konsumsi Global Minyak Canola cukup baik, sekitar 5.6% (2007-2017). Cina sendiri mengalami tingkat pertumbuhan per tahun sebesar 4.2% (2007-2017);

Cina, India dan Jerman menguasai sekitar 49% pasar konsumsi Minyak Canola dunia. (Sumber Daya: Graincentral.com)

INDUSTRI RUMPUT LAUT

Sebagai salah satu negara maritim terbesar dunia, dengan iklim tropis yang ideal bagi pertumbuhan Rumput Laut, Pemerintah Indonesia seharusnya dapat lebih serius dalam membangun dan mengembangkan basis produksi Industri Rumput Laut Nasional dari Hulu sampai dengan Hilir, khususnya Industri Hydrocolloid, yaitu salah satu industri turunan Rumput Laut. Rasio rata-rata Rumput Laut Kering ke Hydrocolloid adalah sekitar 2.5 s/d 5%. Sementara itu Rasio Rumput Laut Basah ke Rumput Laut Kering adalah sekitar 10%.
Dari sisi harga, harga jual tertinggi Rumput Laut Kering rata-rata hari ini sekitar Rp.13.000 per kilogram. Sementara Harga Jual rata-rata Produk Hydrocolloid yang paling murah sekitar Rp. 350.000 per kilogram.
Cina diproyeksikan membutuhkan sekitar 456.000 Ton Hydrocolloid pada tahun 2024!
 
Cina mengimpor minimal sekitar 10.000 Ton Rumput Laut Kering jenis Euchema Cottoni per tahun. Jumlahnya mungkin terbilang kecil bila dibandingkan dengan kapasitas produksi yang dimiliki Indonesia saat ini. Tapi ada satu catatan penting bagi kita tentang perkembangan pasar konsumsi di Cina, khususnya dalam aspek konsumsi protein, yaitu Cina memiliki strategis dalam hal pemangkasan konsumsi protein berbasis daging hewan yang targetnya digantikan dengan konsumsi protein berbasis tumbuh-tumbuhan (plant-based protein).

Tingkat pertumbuhan konsumsi makanan non-daging (vegan sector) diprediksi bertumbuh sekitar 17% (antara tahun 2015-2020), sementara itu Pemerintah Cina menargetkan untuk memangkas sekitar 50% konsumsi daging sampai dengan tahun 2030.

Inilah masa depan industri Cina yang juga merupakan salah satu masa depan peluang ekspor Indonesia ke Cina. Kita harus segera membenahi Industri Rumput Laut Nasional dengan mengembangkan berbagai Industri Turunannya, khususnya Industri Hydrocolloid.
 

Kesimpulan

Membangun dan Mengembangkan berbagai Industri Berbasis Masyarakat seharusnya menjadi salah satu Prioritas Strategis Pembangunan Nasional, karena, selain dapat dalam waktu singkat mendongkrak nilai Ekspor Indonesia, juga dapat meningkatkan serta memperbesar basis produksi nasional yang pada akhirnya dapat meningkatkan Kesejahteraan dan Daya Beli Masyarakat.

Data Statistik BPS dan sejarah perjalanan industri di Indonesia membuktikan bahwa Industri Pengolahan Makanan Berbasis Masyarakat di Indonesia memiliki tingkat Resilience (Ketahanan) yang tinggi. Bahkan hampir 90% Industri Kecil-Menengah yang bergerak di sektor Pengolahan Makanan bisa hidup dan bertahan tanpa adanya intervensi pemerintah dalam aspek Kredit Perbankan atau Dukungan Permodalan. Sudah waktunya Pemerintah mengintervensi industri tersebut dan jadikan sektor industri tersebut menjadi sektor industri primadona nasional yang kuat, sustainable dan resilient.

Dari 26,07 juta Usaha Kecil & Menengah yang ada di Indonesia menurut lapangan usaha:

0 %
Sektor Perdagangan & Eceran
0 %
Sektor Penyediaan Akomodasi & Makanan + Minum
0 %
Sektor Industri Pengolahan

Berminat untuk membahas topik di atas lebih lanjut?
Silahkan hubungi kami di info@muskitta.com 

Silahkan share di sini

Share di sini: